Mastel lakukan riset Digital Inclusion

30 June 2017

Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) akan melakukan riset tentang kondisi digital inclusion di Indonesia.

Digital Inclusion adalah pemberdayaan masyarakat dengan  teknologi informasi dan komunikasi sebagai landasan mutlak Ekonomi Digital.

Digital Inclusion Index adalah indeks yang menunjukkan tingkat penggunaan digital di masyarakat. Konsep dasar inklusivitas adalah kesempatan untuk mendapatkan akses dan memanfaatkan akses untuk memberdayakan diri.

Aspek yang akan dilihat dari survei ini adalah connectivity, affordability, skill & awareness, local related content, dan security & sovereignty.

"Sebagai perbandingan, Indeks Digital inclusion dari beberapa Negara lainnya seperti Inggris, Australia, dan India berturut-turut yaitu 86, 50, dan 39. Nah, kita mau tahu Indonesia di posisi berapa," kata Ketua Umum Mastel Kristiono pekan lalu.

Adapun tujuan riset ini sebagai berikut: Mengetahui level inklusi digital Indonesia dan setiap aspeknya, Membandingkan kondisi inklusi digital setiap kelompok wilayah di Indonesia, bidang TIK. Memberikan referensi program yang perlu diberikan kepada Masyarakat. Memberikan rekomendasi yang tepat untuk meningkatkan pemanfaatan TIK  

"Hasil Riset Digital Inclusion nantinya dapat menjadi masukan strategis bagi pemerintah maupun seluruh stakeholder ekosistem digital dalam rangka menumbuhkan ekonomi digital Indonesia," katanya.

 Asal tahu saja, sebagai negara kepulauan, Indonesia menghadapi banyak tantangan dalam pengembangan teknologi informasi dan komunikasi. Seperti kesenjangan digital yang ditandai dengan akses yang tidak merata, kesenjangan ekonomi, kesenjangan keahlian, kesenjangan literasi dan permasalahan kedaulatan digital.

Beberapa fakta seputar kesenjangan konektivitas di antaranya, saat ini baru 400 dari 514 kabupaten kota di Indonesia yang memiliki akses broadband, dan masih terdapat 7.700 desa yang belum terjangkau sarana telekomunikasi; 213 juta dari 259 juta penduduk masih belum mendapatkan akses broadband (data World Development Report World Bank, ITU dan GSMA tahun 2016); 84,3% rumah tangga di Indonesia memiliki telepon seluler namun pada kenyataannya hanya 35,1% yang terhubung ke Internet (data Survei Indikator TIK Nasional 2015).

Selain masalah ketersediaan akses, kompetensi masyarakat dalam pemanfaatan internet (literasi digital) masih lemah. Dalam hal kefasihan digital (digital fluency), Indonesia menduduki ranking 30 dari 31 negara (survey Accenture 2016).

Menurut survei Internet APJII 2016, dari 51.8% penetrasi Pengguna Internet, 97.4% pengguna internet menggunakan internet untuk social media, 96.4% untuk mendapatkan berita dan 93.8% memanfaatkan internet untuk pembelajaran.

Sebelumnya, Indonesia berada di posisi nomor 35 untuk Indeks Internet Inklusif dalam laporan yang dituangkan Facebook bekerjasama dengan The Economist Intelligence Unit (EIU).

Riset ini melibatkan 75 negara untuk melihat inklusi internet yang ingin mengidentifikasi dan mengatasi kesenjangan akan ketersediaan, keterjangkauan, relevansi dan kesiapan.

Versi cetak

Berita Terkait

Kalender Harian


« Sep 2017 »
Minggu
Senin
Selasa
Rabu
Kamis
Jumat
Sabtu
27 28 29 30 31 1 2
3 4 5 6 7 8 9
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30
1 2 3 4 5 6 7

Polling Pendapat


Layanan online manakah menurut anda yang perlu kami kembangkan ke depan?

 

Shoutbox


Statistik Website


Visitors :8153 Visitor
Hits :36515 hits
Month :169 Users
Today : 12 Users
Online : 1 Users

Tentang Kami

Komunitas Larispa Indonesia adalah komunitas peneliti, pendidik dan praktisi dalam bidang pendidikan di Indonesia.

Alamat
Jl. Sei Mencirim, Komp.Lalang Green Land-1, Blok C-18, Medan, Sumatera Utara
Phone: +061 800 26 116
Fax: +061 800 211 39
Email: info@komunitas-larispa.or.id